MENANAM POHON

…… sebagai Gerakan Menabung Nasional

Tanggal 20 Februari 2010 oleh Predisen SBY dicanangkan sebagai hari Gerakan Menabung Nasional (GMN).  Bank Indonesia menyebutkan bahwa dari 137 juta penduduk Indonesia yang berusia produktif, ternyata ada 80 juta yang tidak memiliki tabungan di bank.

Bagi masyarakat yang tinggal di kota dan kebetulan memiliki dana yang berlebih, maka ajakan Presiden SBY tersebut mudah diwujudkan.  Tetapi bagaimana dengan sebagian besar penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan dan hidupnya hanya pas-pasan (?), jawabnya adalah : SULIT.  Tetapi jangan berkecil hati.  Kita tetap punya kesempatan untuk memiliki banyak uang, meskipun kita tidak menabung di bank. 

Bagi kita yang tinggal di pedesaan (apalagi petani), jangan berharap terlalu banyak pada lembaga kauangan yang namanya BANK.  Walaupun kita rajin menabung, belumlah sebanding dengan penghargaan dan komitmen perbankan pada petani.  Artinya, sebagian besar uang yang kita tabung di bank ternyata lebih banyak dipakai untuk dipinjamkan pada orang-orang kaya --- yang pada umumnya punya jaminan atau agunan (sertifikat).

 

Peluang di Balik Krisis

 Sejak 20 tahun terakhir ini, Indonesia mengalami krisis kayu/hutan. Luas hutan alam Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat menghawatirkan. Terdapat 101,73 juta ha hutan di Indonesia yang rusak (Badan Planologi Departemen Kehutanan, 2003).  Bahkan Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerusakan hutan yang tertinggi di dunia, dengan tingkat kerugian sebesar 83 milyar/hari.  Kerugian negara sebesar itu telah terbuang dengan sia-sia atau barangkali hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Sampai dengan 20 tahun yang akan datang, krisis kayu/hutan di Indonesia belum bisa diprediksi.  Di balik itu, ada peluang yang sangat besar  bagi kita yang tinggal di pedesaan, yaitu untuk memanfaatkan setiap jengkal tanah yang ada di sekeliling kita untuk ditanami pohon/kayu.  Tanamlah pohon sebanyak-banyaknya, dimana saja.  Di kebun sebelah rumah, ladang, pematang sawah, sepanjang pinggiran sungai/rawa, bahkan di seputar lapangan sepakbola, halaman sekolah, balaidesa, halaman rumah ibadah, dan lain-lain.  Pokoknya, jangan sempat ada tanah yang kosong dibiarkan terlantar.

Peluang ini jangan ditunggu sampai bulan depan, apalagi tahun depan.  Mari kita manfaatkan dan mulai hari ini.  Menanam pohon juga menabung.  Mengingat kebutuhan kayu untuk industri kertas, bahan bangunan, meubel dan lain-lain terus meningkat sedangkan persediaan kayu terus menipis. 

Di balik krisis kayu dan kerusakan hutan di Indonesia, Tuhan Yang Maha Murah sedang memberi peluang pada kita yang tinggal di pedesaan.  Kini saatnya kita membenahi pondasi ekonomi keluarga dan mendidik anak-anak kita untuk membiasakan dan bangga menabung untuk masa depan, walau hanya dengan sebatang atau dengan sepuluh batang pohon.  Atau mungkin juga ada yang bisa menanam ratusan atau bahkan dengan ribuan batang pohon.

 

Menanam Kayu Yang Cepat Panen

 Ada tiga kelompok kayu yang bisa ditanam sesuai dengan umur panen.  Pertama : kayu yang bisa dipanen lebih cepat (6 - 8 tahun) seperti : sengon, akasia daun lebar, kayu Afrika, jabon/samama, dan lain-lain.  Kedua : dipanen jangka menengah (8 - 10 tahun), seperti : Pule, jati putih, waru gunung, dan lain-lain.  Ketiga : dipanen agak lama (10 - 15 tahun), seperti : Mahoni, Cempaka, Mindi, Sungkai, jati emas, dan lain-lain.

            

Lebih Menguntungkan Daripada menabung Di Bank

 Kalau dibandingkan dengan menabung di bank --- menanam pohon pasti akan jauh lebih menguntungkan.  Sebagai gambaran, jika 10 batang pohon sengon kita tanam hari ini, maka setelah 8 tahun harganya minimal akan mencapai 10 juta rupiah.  Padahal harga bibit kayu sengon saat ini hanya berkisar Rp.1.000,-/batang dan jenis bibit yang lain berkisar Rp.2.000,-/batang, kecuali Jabon yang masih agak mahal karena belum banyak diusahakan di Lampung. Sedangkan jika menabung uang sebanyak 6,5  juta-pun selama 8 tahun (asumsi bunga simpanan/deposito 7%/tahun), uang kita baru mencapai 10 juta --- itupun belum dipotong pajak.  Secara ekonomis, menabung dengan menanam pohon ternyata ratusan kali lipat lebih menguntungkan daripada menabung di bank. 

             Oleh karena itu, marilah menabung sejak dini.  Menabung dengan menanm pohon cocok untuk anak-anak sekolah yang bercita-cita menjadi Sarjana, untuk keluarga muda yang mendambakan rumah, kendaraan yang bagus dan tabungan untuk anak-anaknya, untuk para pegawai yang hampir pensiun,  untuk kakek/nenek yang ingin menghadiahkan kenangan untuk cucu-cucunya, untuk umat beragama yang ingin membangun rumah ibadah (dititipkan, misalnya 5 batang per KK), dan lain-lain.
 

Mengatasi Krisis Ekonomi dan Lingkungan Hidup

Inilah salah satu cara membangun kekuatan ekonomi yang berbasis kerakyatan dan sekaligus solusi untuk mengatasi krisis ekonomi --- di balik tragedi rusaknya hutan dan lingkungan hidup kita yang rusak sebagai akibat keserakahan sekelompok orang yang ingin ‘cepat kaya’ dengan membabat hutan dan mengekspoitasi isi perut bumi titipan Tuhan --- tanpa hati nurani dan rasa perikemanusiaan.

             Selamat menabung.  Selamat menanam pohon.  Kreatif di tengah krisis.  Memanfaatkan peluang di balik bencana.  Berarti kita juga telah melestarikan alam, menyelamatkan bumi dan Ibu Pertiwi, demi kehidupan dan peradaban yang lebih baik di atas bumi ini.  Kalau bukan kita . . . . . siapa lagi ?

Ir. Anang Prihantoro

Anggota DPD-RI (Wakil Propinsi Lampung)
 

                  
        Ir. Anang Prihantoro dan pohon jabon                                                                           Ir. Anang Prihantoro

 

save the earth

back

 

 


Jl. Kutai No. 16 Alam Cirendeu 04/12, Pisangan ,Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten
Telp & Fax 021-74710363  HP 08161358186 (Mentari), 087877046002 (XL) 
email: apank_jm@yahoo.co.id