Berita Seputar Jabon & Albasia
 

Rp 300 - 400 Juta dari bagi hasil 40 % per1 Hektar Kebun Jabon

Jabon Alternatif pengganti sengon ( albasia)

Kayu jabon peluang baru agrobisnis

Terserang Tumor Jutaan Pohon Albasia Di Pekuncen Terancam mati

Petani Sengon Vs Karat Tumor

'RP300-400 JUTA DARI 1 HA KEBUN JABON.'

Kalimat itu diucapkan Hasan, direktur utama PT Serayu Makmur Kayuindo, produsen kayu lapis di Jakarta. Bukan tanpa alasan Hasan mengeluarkan angka itu. Industri kayu membutuhkan jabon Anthocephalus cadamba sebagai bahan baku vinir, kayu lapis, dan pulp. Produsen peti buah, mainan anak-anak, korek api, cetakan beton juga memerlukan kayu kerabat kopi itu.

Hasan mengatakan bahwa tekstur kayu jabon agak halus hingga agak kasar. Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus. Teras kayu yang berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, membuat urat-urat kayu tampak menonjol sempurna ketika dipernis. Pantas jabon cocok sebagai lapisan luar kayu lapis.

Menurut Prof Dr Ir Surdiding Ruhendi MSc dari Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pohon layak sebagai kayu lapis antara lain bila bentuk batang silindris. Selain itu tinggi batang bebas cabang minimal 5 m, diameter batang minimal 15 cm, dan arah serat lurus. Kerapatan alias bobot jenis 0,4 - 0,7 g/cm3. Syarat lain batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, dan bebas dari cacat mata kayu. 'Jabon sangat memenuhi kriteria itu,' ujar guru besar teknologi perekatan kayu itu.

Ditanggung

Hasan meriset jabon sebagai bahan baku kayu lapis sejak 1999. Selain mengembangkan jabon di lahan sendiri seluas 33 ha, ia giat pula memperluas kemitraan untuk memasok kebutuhan kayu jabon. Harap mafhum, saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam. Pada masa mendatang, 'Harga kayu jabon akan semakin meningkat. Lihat saja, banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu,' kata Hasan.

Masa produksi jabon yang singkat - hanya 4 - 5 tahun - menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, yang terus berkembang. Dengan kemitraan, kelangsungan pasokan bahan baku agar pabrik terus berproduksi dapat terjamin. Sejak program kemitraan digulirkan pada 2006, sekarang PT Serayu menggandeng lebih dari 100 pekebun jabon. Total luas lahan mencapai 3.131 ha tersebar di 7 provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera. Biaya bibit, penanaman, perawatan, pupuk, perikatan notaris, hingga panen menjadi tanggung jawab PT Serayu. 'Pemilik lahan hanya perlu bayar pajak bumi dan bangunan,' kata Hasan. PT Serayu mensyaratkan pemilik lahan - minimal 5.000 m2 - untuk lokasi budidaya selama 4 - 5 tahun.

Hasil penjualan kayu kelak dibagi 2: PT Serayu memperoleh bagian 60%, pekebun plasma 40%. Harga jual kayu jabon disesuaikan dengan harga pasar. Meski demikian, Serayu memberi kebebasan kepada pemilik lahan untuk menjual kayu jabon ke pembeli dengan harga tertinggi.

Pemilik lahan tinggal mengajukan permohonan kerja sama ke PT Serayu Makmur Kayuindo. Setelah itu Serayu mengecek kesesuaian tanah jabon melalui uji laboratorium. Selanjutnya pemilik lahan menyiapkan fotokopi kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan tanda kepemilikan lahan antara lain berupa sertifikat ataupun girik. Itu sebagai syarat perjanjian di hadapan notaris.

Menurut Dr Ir Supriyanto dari SEAMEO Biotrop, jabon tergolong tumbuhan pionir sebagaimana sengon. Ia dapat tumbuh di tanah liat, tanah lempung podsolik cokelat, atau tanah berbatu. Anggota famili Rubiaceae itu tumbuh baik di tanah aluvial di pinggir sungai dan di daerah peralihan antara rawa dan tanah kering. Bahkan di tanah gambut di Kalimantan pun, jabon dapat tumbuh baik.

Hasan menanam jabon dengan jarak 4 m x 4 m. Artinya, populasi 625 pohon/ha. Sejauh ini jabon bebas serangan hama dan penyakit, termasuk karat tumor yang kini banyak menyerang sengon. Hasan tetap mengizinkan budidaya tumpangsari kepada pemilik lahan. Artinya, pemilik lahan tetap dapat berkebun kacang hijau, padi rancah, atau jagung di bawah tegakan jabon. Hasil tumpangsari menjadi hak milik sepenuhnya penggarap lahan.

Perkiraan Hasan dalam 4 - 5 tahun mendatang, pemilik lahan meraup laba bersih Rp300-juta - Rp400-juta per ha. Angka itu diperoleh dari penjualan 625 pohon berumur 4 - 5 tahun sebanyak 800 - 1.000 m3 per ha. Produksi 800 - 1.000 m3 itu berdasarkan hasil riset PT Serayu. Hasan memprediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp1,2-juta/m3. Dengan harga jual Rp1,2-juta per m3 dan produksi 800 m3, maka omzet dari penanaman jabon mencapai Rp960-juta per ha. Sebanyak 40% atau Rp384-juta menjadi hak pemilik lahan. Saat ini harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp716.000; umur 5 tahun, Rp837.000. Andai harga jabon tak terkerek naik alias Rp716.000 per m3, maka omzet dari budidaya jabon 'hanya' Rp572.800.000. Hak pemilik lahan Rp229.120.000/ha.

Emas

Muhammad Insyaf SH, pekebun mitra di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, bermitra dengan PT Serayu pada 2006. Sebanyak 10 ha lahannya ditanami jabon yang kini berumur 3 tahun berdiameter 22 cm. 'Menanam jabon bagaikan menanam emas, sebab kebutuhan kayu akan terus meninggi,' tutur Insyaf.

PT Kupajala Wanantara Kalyana juga menjalin kemitraan dengan pemilik lahan. Menurut Agus Hendarto SE, direktur utama PT Kupajala, pembagian keuntungan adalah 60% bagi PT Kupajala, dan 40% untuk pemilik lahan. Lama kerja sama 6 - 7 tahun. Namun, lahan mitra kerjasama dibatasi hanya di Provinsi Jawa Tengah. Untuk 1 ha lahan Agus lebih menanam rapat berjarak 3 m x 3 m sehingga populasi 1.000 pohon per ha.

Drs Yudha Herryawan Asnawi MM, dosen Magister Bisnis Institut Pertanian Bogor, mengatakan kemitraan itu sebagai solusi yang baik, terutama untuk lahan tidur dan lahan kritis. Yang penting jangan sampai mengkonversi lahan-lahan produktif yang kini ditanami komoditas hortikultura. Yudha mengingatkan agar calon pekebun mitra memperhitungkan kemungkinan kelebihan pasok jabon yang mengakibatkan harga jatuh. Meskipun selama ini, harga kayu cenderung naik. (Faiz Yajri)

Back
 

 


Jl. Kutai No. 16 Alam Cirendeu 04/12, Pisangan ,Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten
Telp & Fax 021-74710363  Mobile: 021-97 345 76 (Esia), 0816 135 8186 (Mentari), 0878 0867 9442 (XL), 0853 1325 3704 (Simpati)
 

email: apank_jm@yahoo.co.id